Senin, 21 Maret 2011

Tugas2

Nama : Octaviani Palantupen

NPM : 10207832

Kelas : 4EA03

Tugas : B.Inggris Bisnis 2

Blog : octadheoo.blogspot.com

Exercise 33 page 123 1-10

1. Because of

2. Because of

3. Because of

4. Because

5. Because

6. Because

7. Because of

8. Because of

9. Because of

10. Because of

Exercise 34 page 124 1-15

1. So

2. Such

3. So

4. So

5. So

6. So

7. Such

8. So

9. Such

10. Such

11. So

12. So

13. Such

14. So

Reunion Invitation Letter

Reunion Invitation

Dear Friends,

Reminiscing about your school years? Thinking about where all your fellow classmates are? If so, it is time to start planning a class reunion. If you would like to find out just how simple, fun and rewarding this process can be please contact Octaviani.

kyo_octa@yahoo.com

On Sunday, 10 April 2011

at 05.00 pm- 10.00 pm

JF Room

If you are interested in organizing an event for your classmates, please review the reunion kit below. The kit includes a list of our reunion services, a sample name tag, a sample reunion invitation envelope, reunion coordinator responsibilities and timelines, ideas and tips and a sample reunion invitation letter.

Tugas 2

Nama : Octaviani Palantupen

NPM : 10207832

Kelas : 4EA03

Tugas : B.Inggris Bisnis 2

Blog : octadheoo.blogspot.com

Exercise 33 page 123 1-10

1. Because of

2. Because of

3. Because of

4. Because

5. Because

6. Because

7. Because of

8. Because of

9. Because of

10. Because of

Exercise 34 page 124 1-15

1. So

2. Such

3. So

4. So

5. So

6. So

7. Such

8. So

9. Such

10. Such

11. So

12. So

13. Such

14. So

Reunion Invitation Letter

Reunion Invitation

Dear Friends,

Reminiscing about your school years? Thinking about where all your fellow classmates are? If so, it is time to start planning a class reunion. If you would like to find out just how simple, fun and rewarding this process can be please contact Octaviani.

kyo_octa@yahoo.com

On Sunday, 10 April 2011

at 05.00 pm- 10.00 pm

JF Room

If you are interested in organizing an event for your classmates, please review the reunion kit below. The kit includes a list of our reunion services, a sample name tag, a sample reunion invitation envelope, reunion coordinator responsibilities and timelines, ideas and tips and a sample reunion invitation letter.

Senin, 21 Februari 2011

BAHASA INGGRIS BISNIS 2

Nama : Octaviani Palantupen
NPM : 10207832
Kelas : 4EA03
Tugas : Bahasa Inggris Bisnis 2

1. Exercise 21 page 97 (1-30)
1) Understood 11) Painted 21) Studied
2) Become 12) Were 22) Heard
3) Give 13) Write 23) See
4) Told 14) Permited 24) Get
5) Became 15) Spent 25) Turned
6) Had 16) Accepted 26) Was
7) Stopped 17) Bought 27) Called
8) Needed 18) Decided 28) Talked
9) Found 19) Wrote 29) Explained
10) Enjoyed 20) Leaked 30) Spoke
2. Exercise 26 page 107 (1-10)
1) Well 6) Smooth
2) Intense 7) Accurately
3) Brightly 8) Bitterly
4) Fluently 9) Soon
5) Smooth 10) Fastly

3. Exercise 27 page 109 (1-10)
1) Terrible 6) Quickly
2) Good 7) Diligently
3) Good 8) Vehemently
4) Calm 9) Relaxed
5) Sick 10) Noisily
4. Exercise 28 page 114 (1-10)
1) Than summer 6) More talented
2) More important 7) More Colorfuly
3) As well 8) Happier
4) More expensive 9) Worst
5) More talented 10) More Faster

5. Exercise 29 page 114 (1-10)
1) Than 6) Than
2) As 7) As
3) From 8) Than
4) Than 9) Than
5) As 10) From

6. Exercise 30 page 117 (1-10)
1) Better 11) The best
2) Happiest 12) Than
3) Fastest 13) Less impressive
4) Creamist 14) The sicker
5) More colorful 15) When
6) Better 16) Twich as much as
7) Good 17) Few
8) More awkwardly 18) Much
9) Least 19) Farthest
10) Prettier 20) More Famous
7. Exercise 54 page 203 (1-20)
1) Angel 11) Latter
2) Your 12) Than
3) Sight 13) Loose
4) Who’s 14) Stationery
5) Costume 15) Passed
6) Whether 16) Quit
7) Descent 17) Peace
8) To 18) Principle
9) Dessert 19) Quite
10) They’re 20) Cite

8. Exercise 56 page 214 (1-78)
1) During 11) Out of 21) Of 31) On 41) By 51) On
2) On 12) In 22) On 32) At 42) In 52) Of
3) At 13) On 23) At 33) In 43) At 53) Course
4) On 14) At 24) In 34) In 44) In 54) Out
5) In 15) Once in 25) Of 35) In 45) At 55) Of
6) At 16) at 26) In 36) At 46) On 56) In
7) On 17) On 27) On 37) On 47) In 57) Of
8) Out of 18) At 28) By 38) At 48) At 58) At
9) At 19) On 29) In 39) In 49) In 59) On
10) In 20) Out 30) In time 40) Out of 50) Of 60) Of
61) From 71) For
62) In 72) Good
63) By 73) Of
64) For 74) By
65) By 75) In
66) From 76) On
67) From 77) Of
68) In 78) On
69) Of
70) By


Letter Offering Congratulation

Dear Mr. Zero
Your appointment to the magazine gave me great pleasure,
and I offer you my sincere congratulations.
I am delighted that your talent and hard work have been rewarded.
I had hoped that I might be able to congratulate you in person,
But I am going on dines when I return in March I will contact you
And I hope we shall have the opportunity of celebrating in the meantime.
I wish you every success.


Your Sincerely,


Octaviani Palantupen

Rabu, 05 Januari 2011

Tugas Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Nama : Octaviani Palantupen
Kelas : 4EA03
NPM : 10207832
Tugas : Etika bisnis (Tanggung Jawab Sosial)

klikharry
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, Investasi bukan Biaya
February 7, 2007
Oleh: Harry Wahyudhy Utama, S.Ked

Perusahaan selama ini dianggap sebagai biang rusaknya lingkungan, pengeksploitasi sumber daya alam, hanya mementingkan keuntungan semata. Kebanyakan perusahaan selama ini melibatkan dan memberdayakan masyarakat hanya untuk mendapat simpati. Program yang mereka lakukan hanya sebatas pemberian sumbangan, santunan dan pemberian sembako. Dengan konsep seperti ini, kondisi masyarakat tidak akan berubah dari kondisi semula, tetap miskin dan termarginalkan.
Tanggung jawab perusahaan memberikan konsep yang berbeda dimana perusahaan tersebut secara sukarela menyumbangkan sesuatu demi masyarakat yang lebih baik dan lingkungan hidup yang lebih bersih. Tanggung jawab sosial dari perusahaan (Corporate Social Responsibility) didasarkan pada semua hubungan, tidak hanya dengan masyarakat tetapi juga dengan pelanggan, pegawai, komunitas, pemilik, pemerintah, supplier bahkan juga kompetitor.
Menurut Bank Dunia, Tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama: perlindungan lingkungan, jaminan kerja, hak azasi manusia, interaksi dan keteribatan perusahaan dengan masyarakat, standar usaha, pasar, pengembangan ekonomi dan badan usaha, perlindungan kesehatan, kepemimpinan dan pendidikan, bantuan bencana kemanusiaan.
Citra perusahaan di mata masyarakat sangat berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Teknologi informasi sekarang ini memudahkan masyarakat dalam mengakses berbagai informasi dari berbagai penjuru dunia. Jika satu perusahaan tidak menunjukkan komitmen sosial yang baik di suatu daerah, informasi ini akan cepat tersebar luas ke berbagai penjuru dunia. Akibatnya akan terbentuk citra yang negatif. Sebaliknya, jika perusahaan menunjukkan komitmen sosial yang tinggi terhadap kegiatan kemanusiaan, pelestarian lingkungan, kesehatan masyarakat, pendidikan, penanggulangan bencana alam, maka akan terbentuk citra positif yang positif.
Salah satu bentuk dari tanggung jawab sosial perusahaan adalah community development. Perusahaan yang mengedepankan konsep community development lebih menekankan pembangunan sosial dan pembangunan kapasitas masyarakat sehingga akan menggali potensi masyarakat lokal yang menjadi modal sosial perusahaan untuk maju dan berkembang. Selain dapat menciptakan peluang-peluang sosial-ekonomi masyarakat, menyerap tenaga kerja dengan kualifikasi yang diinginkan, cara ini juga dapat membangun citra sebagai perusahaan yang ramah dan peduli lingkungan. Selain itu, akan tumbuh trust (rasa percaya) dari masyarakat. Sense of belonging (rasa memiliki) perlahan-lahan muncul dari masyarakat sehingga masyarakat merasakan bahwa kehadiran perusahaan di daerah mereka akan berguna dan bermanfaat.
Dengan adanya citra positif ini, maka perusahaan akan lebih mudah memperoleh kepercayaan dari tiap-tiap komponen masyarakat. Perlu dilakukan beberapa langkah strategis guna mendapatkan citra yang positif ini, diantaranya komitmen antara pimpinan dan bawahan untuk mewujudkan setiap tanggung jawab sosial perusahaan dalam setiap kegiatan bisnisnya. PT. Newmont sebagai contohnya, untuk mengembalikan citra positif mereka akibat dugaan pencemaran di teluk buyat, PT. Newmont berkomitmen melanjutkan kegiatan reklamasi, pemantauan dan pengelolaan lingkungan terutama pengujian toksisitas terhadap larutan talling agar tidak melewati ambang batas dan tidak mencemari biota laut. Selain itu, PT Newmont telah menciptakan lapangan kerja, mengembangkan usaha masyarakat, pembangunan sarana jalan dan memberikan program pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Strategi lainnya adalah pihak perusahaan secara terbuka membangun kemitraan dengan berbagai kalangan dan organisasi termasuk LSM yang profesional secara terbuka. Pimpinan perusahaan juga harus mampu menyampaikan informasi secara terbuka dan transparan sesuai dengan kapasitas mitranya.
Selain itu, perlu dibentuk departemen tersendiri yang menjalankan tanggung jawab sosial mereka seperti sebuah perusahaan yang berbasis di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau yang membentuk departemen tersendiri yang disebut Program Pemberdayaan Masyarakat Riau (PPMR) yang dipimpin oleh pejabat setingkat direktur.
Menurut hasil riset PIRAC (2003), bidang yang paling banyak diprioritaskan oleh kalangan dunia usaha adalah pelayanan kesehatan (82%), keagamaan (61%) dan pendidikan (57%). Derajat kesehatan sangat menentukan tingkat produktivitas karyawan perusahaan maupun kemampuan masyarakat untuk meningkatkan pendidikan maupun pendapatan keluarga. Perusahaan di Indonesia harus mulai mengusung aktivitas tanggung jawab sosial mereka terutama bidang kesehatan, seperti revitalisasi posyandu, pendidikan keluarga sehat, pencegahan penyakit, program sanitasi dan program lainnya secara berkala dan berkesinambungan.
Bukan itu saja, prioritas di bidang kesehatan juga mencakup kesehatan dan keselamatan kerja. Hendaknya perusahaan memiliki komitmen untuk mencapai standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja terutama pada pekerjaan yang berpotensi menimbulkan bahaya, penyakit dan kecelakaan kerja. Kemudian menciptakan suatu kondisi yang mendekati “Zero Harm” bagi karyawan, mitra kerja, masyarakat di lingkungan kegiatannya, serta menjadi pemimpin dalam praktik pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam. Pemeriksaan kesehatan dan pemantauan lingkungan harus dilakukan secara berkala terhadap paparan dalam jangka panjang.
Dr. Tan Malaka, seorang spesialis di bidang okupasi kerja menyatakan bahwa dengan adanya pemeriksaan kesehatan dan pemantauan lingkungan, maka biaya yang dikeluarkan sebenarnya jauh lebih kecil daripada membayar biaya pengobatan seluruh karyawan dan ganti rugi perbaikan lingkungan. Dengan begitu, berarti perusahaan tidak membuang-buang uang. Selain produktivitas karyawan tetap terjaga, citra positif dimata masyarakat akan mulai dirasakan oleh perusahaan.
Inilah yang dilakukan oleh PT Newmont Nusa Tenggara yang pada tahun 2004 menerima Sertifikat Emas dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai wujud pengakuan terhadap prakarsa pencegahan kecelakaan dan kinerja keselamatan yang dicapainya pada tahun 2003.
Kita berharap, semoga tanggung jawab sosial perusahaan ini bukan hanya ingin mendapatkan kesan baik semata, tetapi lebih kepada suatu niat baik perusahaan sebagai salah satu bagian dari masyarakat.




Komentar :
Tanggung jawab sosial dari perusahaan didasarkan pada semua hubungan, tidak hanya dengan masyarakat tetapi juga kalangan yang terkait. Sehingga, dengan adanya tanggung jawab social yang dimiliki oleh perusahaan dapat membantu dampak positif tersendiri bagi perusahaan tersebut.

Sumber :
1. Bertens, K., Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta, Kanisius, 2000.
2. Keraf, Sonny., Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya, Yogyakarta, Kanisius, setakan ke-9, 1998.
3. http://klikharry.wordpress.com/2007/02/07/tanggung-jawab-sosial-perusahaan-investasi-bukan-biaya/

Rabu, 24 November 2010

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Nama : Octaviani Palantupen
NPM : 10207832
Kelas : 4EA03
Mata Kuliah : Etika Bisnis

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Setiap perusahaan yang ada memiliki tanggung jawabnya masing-masing. Tanggung jawab sosial perusahaan merupakan suatu topik etika bisnis yang banyak dibahas. Suatu perusahaan pasti memiliki tanggung jawab, tanggung jawab legal yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang tidak mungkin diragukan lagi karena perusahaan merupakan badan hokum yang memiliki hak dan kewajiban yang juga dimiliki oleh manusi, perusahaan harus menaati peraturan hukum dan memenuhi hukumannya.
Dalam hal ini perusahaan harus juga mempunyai tanggung jawab moral, untuk memiliki tanggung jawab moral perusahaan harus memiliki status moral atau dengan kata lain perlu memiliki pelaku moral. Pelaku moral dapat melakukan perbuatan yang dapat dinilai etis atau tidak etis. Maka dari itu, salah satu syarat yang penting bagi perusahaan adalah memiliki kebebasan atau kesanggupan dalam mengambil keputusan secara bebas.
Ada tiga syarat penting yang dapat dilihat dari tanggung jawab moral, syarat pertama yaitu, bahwa tindakan yang dijalankan oleh pribadi yang rasional, pribadi yang memiliki kamampuan akal budi yang sudah matang dan berfungsi secara normal, dan memahami dengan baik apa yang dilakukannya. Syarat kedua, tanggung jawab hanya mungkin relevan dan dituntut dari seseorang atas tindakannya, jika tindakan yang dilakukan secaara bebas. Syarat ketiga adalah bahwa tindakan yang dilakukan oleh seseorang berdasarkan kemauan orang tersebut, dimana ia sendiri bersedia dan mau melakukan tindakan tersebut.
Yang dimaksudkan dengan tanggung jawab sosial perusahaan adalah tanggung jawab moral perusahaan terhadap masyarakat. Tanggung jawb moral perusahaan dapat diarahkan kepada benyak hal seperti diri sendiri, kepada para karyawan, perusahaan lain dan sebagainya.
Tanggung jawab sosial perusahaan disini lebih kepada tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dimana perusahaan menjalankan kegiatannya. Menurut Milton Friedman professor emeritus dari Universitas Chicago (1912-) dalam bukunya yang berjudul The social responsibility of business is to increase its profits yang dimuat dalam New York Times Magazine, 13 September 1970, bahwa satu-satunya tanggung jawab perusahaan adalah meningkatkan keuntungan sampai menjadi sebesar mungkin. Tanggung jawab ini diletakkan ditangan para manajer. Dimana manajer tidak mempunyai tujuan lain selain tugasnya untuk menghasilkan keuntungan sebesar mungkin untuk perusahaan.
Dengan demikian, perusahaan dituntut untuk tetap bersikap tanggap, peduli, dan bertanggung jawab atas hak dan kepentingan pihak lainnya, karena perusahaan merupakan bagian dari masyarakat yang lebih luas, perlu memikirkan sesuatu yang dpat membantu kepentingan masyarakat, karena manusia tidak dapat hidup tanpa membutuhkan bantuan dari orang lain. Keterlibatan perusahaan dalam kegiatan-kegiatan sosial yang berguna bagi masyarakat diharapkan dapat membantu memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, jadi tanggung jawab moral perusahaan dengan ikut dalam kegiatan tertentu dapat berguna bagi masyarakat.
Selain itu tanggung jawab perusahaan juga mengharapkan keuntungan ekonomis, yaitu mendapatkan keuntungan sebesar mungkin unutk perusahaan. Berhasil atau tidaknya suatu perusahaan secara ekonomis dan moral, dinilai berdasarkan lingkup tanggung jawab sosialnya. Peraturan hukum yang ada pada masyarakat juga merupakan tanggung jawab perusahaan dalam memenuhinya. Termasuk meghormati kepentingan dan hak dari pihak-pihak lain yag terkait dan memiliki kepentingan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan bisnis yang dijalankan suatu perusahaan.

Sumber :
1. Bertens, K., Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta, Kanisius, 2000.
2. Keraf, Sonny., Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya, Yogyakarta, Kanisius, setakan ke-9, 1998.

Senin, 22 November 2010

RISET PEMASARAN

Nama : Octaviani P.
NPM : 10207832
Tugas : Riset Pemasaran


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP TOKO KELONTONG

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Toko atau industri Ritel yang biasa dijumpai saat ini semakin tumbuh pesat, hal ini merupakan hasil dari peningkatan produsi kemasan yang ditata dan dikemas dalam tampilan yang menarik. Peluang inilah yang dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk membangun jaringan toko dengan usaha dan modal usaha sendiri.
Semakin meningkatnya dan majunya teknologi pada sekarang ini membuat sesuatu hal baru menjadi mudah ditiru orang lain, sehingga peranan pelayanan konsumen menjadi penting. Melihat banyaknya keinginan akan kebutuhan yang diinginkan oleh konsumen, sehingga membuat para pelaku usaha berusaha untuk memenuhinya.
Hal ini menunjukkan bahwa kepuasan konsumen akan sutu tempat yang memenuhi kebutuhannya sangatlah penting, berdasarkan uraian diatas, penulis mengambil judul penelitian “FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP TOKO KELONTONG.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini yaitu Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap toko kelontong ?

1.2 Batasan Masalah
Penulis membatasi masalah pada faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap toko kelontong. Dimana objek yang diteliti disini adalah konsumen Peumahan Beji Permai yang berbelanja ditoko kelontong Tanah Baru, Depok dengan membagikan kuesioner pada tiap konsumen yang menjadi pelanggan tetap toko “Gross”.

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap toko kelontong.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Menejemen Pemasaran
Manajemen Pemasaran adalah analisis perencanaan, penerapan dan pengendalian terhadap program yang dirancang untuk menciptakan atau membangun dan mempertahankan pertukaran dan hubungan yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan–tujuan organisasi. (Irawan 1996:15).
Manajemen Pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan target pembeli untuk tujuan mencapai obyektif organisasi. (Philip kotler 1997:13).

2.2 Pengertian Perilaku Konsumen
Semakin majunya perekonomian dan teknologi, maka semakin berkembang juga strategi pemasaran yang harus dilakukan suatu perusahaan dibidang pemasaran. Dalam hal ini perusahaan diharapkan memahami dan mengerti mengenai perilaku konsumen yang berhubungan dengan keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen tersebut. Konsumen selalu melakukan berbagai pertimbangan dalam menentukan jenis produk dan jasa yang dibutuhkan, hal ini berhubungan dengan perilaku konsumen.
Perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusul tindakan ini. Sedangkan pengertian perilaku konsumen menurut Dharmmesta dan Handoko, 2000 : 10, Perilaku Konsumen adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa tersebut didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut hubungannya dengan keputusan pembelian suatu produk atau jasa, pemahaman mengenai perilaku konsumen meliputi jawaban atas pertanyaan seperti apa (what) yang dibeli, dimana membeli (where), bagaimana kebiasaan (how often) membeli dan dalam keadaan apa (under what condition) barang-barang dan jasa-jasa dibeli. Keberhasilan perusahaan dalam pemasaran perlu didukung pemahaman yang baik mengenai perilaku konsumen, karena dengan memahami perilaku konsumen perusahaan dapat merancang apa saja yang diinginkan konsumen.

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
1. Faktor-Faktor Kebudayaan
a. Budaya
Budaya adalah faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang yang paling mendasar.
b. Sub Budaya
Sub budaya merupakan kelompok-kelompok sub budaya yang lebih kecil yang merupakan identifikasi dan sosialisassi yang khas untuk perilaku anggotanya. Ada empat macam sub budaya yaitu, kelompok kebangsaan, keagamaan, ras dan wilayah geografis.
c. Kelas Sosial
Kelas sosial adalah kelompok dalam masyarakat, dimana setiap kelompok cenderung memiliki nilai minat dan tingkah laku yang sama.
2. Faktor-Faktor Sosial
a. Kelompok Referensi
Kelompok Referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh
langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang.
b. Keluarga
Anggota keluarga dapat memberi pengaruh yang kuat terhadap perilaku pembeli.
c. Peranan dan Status
Kedudukan seseorang dalam setiap kelompok dapat dijelaskan dalam pengertian peranan dan status. Setiap peranan membawa satu status yang mencerminkan penghargaan umum oleh mesyarakat.

3. Faktor-Faktor Pribadi
a. Usia
Pembelian dan selera seseorang dapat berubah-ubah berhubungan dengan usianya.
b. Pekerjaan
Dengan adanya suatu pekerja, suatu perusahaan dapat memproduksi produk sesuai dengan kebutuhan kelompok pekerjaan tertentu.
c. Keadaan Ekonomi
Keadaan ekonomi seseorang dapat dilihat dari tingkat pendapatan yang dapat berpengaruh terhadap pilihan produk.
d. Gaya Hidup
Gaya hidup seseorang adalah pola hidup yang turut menentukan perilaku pembelian.
e. Kepribadian dan Konsep diri
Kepribadian adalah ciri-ciri psikologis yang membedakan setiap orang, sedangkan konsep diri lebih kearah citra diri.

4. Faktor-Faktor Psikologis
a. Motivasi
Motivasi adalah suatu kebutuhan yang cukup kuat mendesak untuk mengarahkan seseorang agar dapat mencari pemuasan terhadap kebutuhan itu.
b. Persepsi
Persepsi adalah seseorang yang termotivasi untuk melakukan suatu perbuatan. Seseorang yang termotivasi dipengaruhi oleh persepsinya terhadap situasi yang dihadapinya.
c. Belajar
Belajar merupakan suatu perubahan dalam perilaku seseorang individu, yang bersumber dari pengalaman. Perilaku individu diperoleh dangan mempelajarinya.
d. Kepercayaan dan Sikap
Melalui perbuatan dan belajar, seseorang memperoleh kepercayaan dan sikap selanjutnya mempengaruhi tingkah laku pembelian.


BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 Objek Penelitian
Objek yang digunakan oleh penulis adalah konsumen yang berbelanja dan menjadi pelanggan ditoko kelontong yang berada di Perumahan Beji Permai, Tanah Baru, Depok.

3.2 Data atau variabel yang digunakan
Penulis melakukan pengumpulan sumber data dengan menggunakan data primer yaitu sumber data yang diperoleh langsung dari lokasi penelitian yang berupa kuesioner yang dibagikan kepada 50 orang responden konsumen yang berbelanja dan menjadi pelanggan ditoko kelontong yang berada di Perumahan Beji Permai, Tanah Baru, Depok.

3.3 Metode Pengumpulan Data
1. Data Primer
Yaitu data yang secara langsung dikumpulkan dan didapatkan untuk kebutuhan riset atau penelitian yang berjalan.

a. Kuesioner
Dengan cara menyebarkan kuesioner kepada 50 orang resonden pengguna IM3 dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap toko kelontong yang berbelanja dan menjadi pelanggan yang berada di Perumahan Beji Permai, Tanah Baru, Depok yang telah dibuat sebelumnya oleh penulis dan dibagikan secara acak kepada responden.
2. Data Sekunder
Yaitu data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain atau data yang sudah tersedia dari sumber yang sudah ada dan diperoleh dari situs-situs publik.
a. Studi Kepustakaan
Yaitu penulis menggunakan studi kepustakaan yang bertujuan menghubungkan kebenaran teori dengan kenyataan yang dialami konsumen yang berbelanja dan menjadi pelanggan ditoko kelontong yang berada di Perumahan Beji Permai, Tanah Baru, Depok. Untuk menggali teori yang telah berkembang dalam bidang ilmu yang relevan dengan topik penelitian.
2. Dengan membuka dan mencari melalui situs-situs internet yang erat hubunganya dengan penulisan ini.
3.4 Alat Analisis yang digunakan
3.4.1 Kuesioner
Kuesioner adalah suatu cara pengumpulan data dengan emberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden, dengan harapan mereka akan memberikan respon atas daftar pertanyaan tersebut. Daftar pertanyaan yang ditunjukan kepada responden tentang pendapat mereka mengenai pengaruh merek, pelayanan operator, penayangan iklan, dan tarif, terhadap minat beli konsumen.

3.4.2 Skala Likert
Menurut Drs.Riduwan, M.B.A (2008:12) Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Dalam penelitian gejala sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.
Dengan menggunakan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi dijabarkan menjadi sub variabel kemudian sub variabel dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator yang dapat diukur. Akhirnya indikator-indikator yang terukur ini dapat dijadikan titik tolak untuk membuat item instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden.
Rumus :





Bobot yang diberikan adalah :
Bobot 5 = Sangat Setuju
Bobot 4 = Setuju
Bobot 3 = Kurang Setuju
Bobot 2 = Tidak Setuju
Bobot 1= Sangat Tidak Setuju

3.4.3 Regresi Linier Berganda
Analisis Regresi Linier Berganda adalah hubungan secara linier antara dua atau lebih variabel independendengan variabel dependen . Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan. Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio.
Persamaan regresi linear berganda sebagai berikut :


3.5 Metode Analisis
a. Uji Validitas
Uji Validitas adalah ketepatan atau kecermatan suatu instrumen dalam mengukur apa yang ingin diukur. Pengujian item-item pertanyaan dalam kuesioner yang bertujuan untuk mengetahui apakah item-item tersebut benar-benar mengukur konsep-konsep yang dimaksudkan dalam penelitian ini dengan tepat.

b. Uji Reliabilitas
Uji Reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur, apakah alat pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang



BAB IV
PEMBAHASAN


4.1 Hasil Penelitian dan Analisis Pembahasan
4.1.1 Analisis Validitas dan Reliabilitas
Analisis uji Validitas digunakan untuk mengukur derajat ketepatan penelitian tentang isi atau arti sebenarnya yang diukur. Uji validitas akan dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi antar subjek pada item pertanyaan dengan skor test yang diperoleh dari hasil kuesioner, yaitu dengan mencari nilai koefisien korelasi (r) dari masing-masing pertanyaan dan dibandingkan dengan nilai kritik tabel korelasi. Bila r hitung > r tabel, maka pertanyaan / variabel tersebut adalah signifikan. Hal ini berarti bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut memiliki validitas konstrak, yaitu memiliki konsistensi internal yang berarti bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut mengukur aspek yang sama.
Analisis Uji Reabilitas digunakan untuk mengetahui konsistesi alat ukur, apakah alat pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tesebut diulang. Ada beberapa metode pengujian reliabilitas diantaranya metode tes ulang, formula belah dua dari Spearman Brown, formula KR-20, KR-21, dan metode Anova Hoyt. Dalam program SPSS sering digunakan penelitian mahasiswa adalah dengan menggunakan metode Alpha (Cronbanch’s). Metode Alpha sangat cocok digunakan pada skor berbenuk skala (misal 1-4, 1-5) atau skor rentangan (misal 0-20, 0-50). Metode Alpha dapat juga digunakan pada skor dikotomi (0 dan 1) dan akan menghasilkan perhitungan yang setara dengan menggunakan metode KR-20 dan Anova Hoyt.


4.1.1.1 Hasil Analisis Validitas dan Reabilitas Keusioner untuk Variabel Budaya
Hasil uji validitas seperti terlihat pada tabel 4.2.2.1 di bawah ini :
Tabel 4.2.1.1
Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted
p1 3.8000 .379 .614 .a
p2 3.9000 .411 .614 .a
Sumber : data diolah dengan SPSS

Dari tabel diatas diketahui nilai Corrected Item-Total Correlation untuk pertanyaan P1 dan P2 memiliki nilai > 0,444. Sehingga 2 pertanyaan tersebut yang telah diujikan adalah valid dan dapat digunakan untuk mengukur variabel budaya, sosial, pribadi, psikologis.
Dari test reabilitas diatas didapat nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,760 (Penghitungan SPSS untuk Validitas dan Reliabilitas X1 Merek tabel Reliability Statistics ) yang lebih besar dari 0,6, karena lebih besar dari 0,6 maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrument penelitian tersebut adalah reliable.

4.1.1.2 Hasil Analisis Validitas dan Reabilitas Keusioner untuk Variabel Sosial

Hasil uji validitas seperti terlihat pada tabel 4.2.2.2 di bawah ini :

Tabel 4.2.1.2
Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted
p3 3.6000 .358 .216 .a
p6 3.6500 .239 .216 .a
Sumber : data diolah dengan SPSS

Dari tabel diatas diketahui nilai Corrected Item-Total Correlation untuk pertanyaan P3 dan P6 memiliki nilai < 0,444. Sehingga 2 pertanyaan tersebut yang telah diujikan adalah tidak valid dan tidak dapat digunakan untuk mengukur variabel budaya, sosial, pribadi, psikologis.
Dari test reabilitas diatas didapat nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,349 (Penghitungan SPSS untuk Validitas dan Reliabilitas X2 Pelayanan Operator, tabel Reliability Statistics ) yang lebih kecil dari 0,6, karena lebih kecil dari 0,6 maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrument penelitian tersebut adalah tidak reliable.

4.2.1.3 Hasil Analisis Validitas dan Reabilitas Keusioner untuk Variabel Pribadi

Hasil uji validitas seperti terlihat pada tabel 4.2.2.2 di bawah ini :
Tabel 4.2.1.3
Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted
p4 18.4500 2.366 .265 .470
p9 18.2500 2.408 .159 .527
p10 18.0000 2.421 .303 .457
p12 18.2000 2.484 .227 .487
p13 18.2500 1.882 .386 .395
p14 18.3500 2.345 .279 .463
Sumber : data diolah dengan SPSS

Dari tabel diatas diketahui nilai Corrected Item-Total Correltion untuk pertanyaan P4, P9, P10, P12, P13, dan P14 memiliki nilai < 0,444. Sehingga 6 pertanyaan tersebut yang telah diujikan adalah tidak valid dan tidak dapat digunakan untuk mengukur variabel budaya, sosial, pribadi, psikologis.
Dari test reabilitas diatas didapat nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,515 (Penghitungan SPSS untuk Validitas dan Reliabilitas X3 Penayangan Iklan, tabel Reliability Statistics ) yang lebih kecil dari 0,6, karena lebih kecil dari 0,6 maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrument penelitian tersebut adalah tidak reliable.

4.2.1.4 Hasil Analisis Validitas dan Reabilitas Keusioner untuk Variabel Psikologis
Hasil uji validitas seperti terlihat pada tabel 4.2.2.2 di bawah ini :
Tabel 4.2.1.4
Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted
p5 11.3000 1.589 .262 .452
p7 11.0000 1.789 .385 .357
p8 11.6000 1.411 .426 .274
p11 11.2500 1.987 .121 .560
Sumber : data diolah dengan SPSS

Dari tabel diatas diketahui nilai Corrected Item-Total Correltion untuk pertanyaan P5, P7, P8, 8 dan P11 memiliki nilai < 0,444. Sehingga 4pertanyaan tersebut yang telah diujikan adalah tidak valid dan tidak dapat digunakan untuk mengukur variabel budaya, sosial, pribadi, psikologis.
Dari test reabilitas diatas didapat nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,493 (Penghitungan SPSS untuk Validitas dan Reliabilitas X4 Tarif, tabel Reliability Statistics ) yang lebih kecil dari 0,6, karena lebih kecil dari 0,6 maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrument penelitian tersebut adalah tidak reliable.

4.2 Analisis Deskriptif
a. Karakterstik responden
Setelah mendapat data yang dibutuhkan maka penulis akan menggambarkan hasil penelitiannya yang diperoleh dari penyebaran kuesioner kepada 50 responden konsumen yang berbelanja dan menjadi pelanggan ditoko kelontong yang berada di Perumahan Beji Permai, Tanah Baru, Depok. Untuk mengetahui seberapa besar kepuasan konsumen.
b. Jenis kelamin (Gender) dan Usia
Adapun pemilihan karakter pada penelitian ini adalah Jenis kelamin dan usia. Karakteristik responden setelah dilakukan penelitian yang dipilih secara acak adalah laki-laki 54 % dan perempuan 46% dengan rata-rata usia responden berkisar antara lain <19 tahun adalah 3 responden (%), antara 19-22 tahun adalah 40 responden (80%) dan >22 tahun adalah 7 responden (%). Data tersebut dapat dilihat dari tabel responden dibawah ini.
Gambar 4.2
Pembagian Jenis Kelamin dan Usia dalam Diagram Pie








4.3 Analisis Regresi Linear Berganda
a. Analisis Korelasi Ganda (R)
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel independen (X1, X2,.….Xn) terhadap variabel dependen (Y) secara serentak. Koefisien ini menunjukkan seberapa besar hubungan yang terjadi antara variabel independen (X1, X2,.….Xn) secara serentak terhadap variabel dependen (Y). nilai R berkisar antara 0 sampai 1, nilai semakin mendekati 1 berarti hubungan yang terjadi semakin kuat, sebaliknya nilai semakin mendekati 0 maka hubungan yang terjadi semakin lemah.
Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut :
0,00 – 0,199 = sangat rendah
0,20 – 0,399 = rendah
0,40 – 0,599 = sedang
0,60 – 0,799 = kuat
0,80 – 1,000 = sangat kuat
Hasil analisis Koefisien Korelasi Berganda terlihat pada tabel 4.3 dibawah ini :



Tabel 4.3
Koefisien korelasi berganda
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .583a .340 .282 .57916
a. Predictors: (Constant), X4, X2, X3, X1
Sumber : data diolah dengan SPSS
Berdasarkan tabel diatas diperoleh angka R sebesar 0,583. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang cukup kuat antara budaya, sosial, pribadi , dan psikologis secara bersama-sama secara positif terhadap kepuasan konsumen.
b. Analisis Determinasi (R2)
Analisis determinasi dalam regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh variabel independen (X1, X2,.….Xn) secara serentak terhadap variabel dependen (Y). Koefisien ini menunjukkan seberapa besar persentase variasi variabel independen yang digunakan dalam model mampu menjelaskan variasi variabel dependen. R2 sama dengan 0, maka tidak ada sedikitpun persentase sumbangan pengaruh yang diberikan variabel independen terhadap variabel dependen, atau variasi variabel independen yang digunakan dalam model tidak menjelaskan sedikitpun variasi variabel dependen. Sebaliknya R2 sama dengan 1, maka persentase sumbangan pengaruh yang diberikan variabel independen terhadap variabel independen yang digunakan dalam model menjelaskan 100% variasi dependen.
Berdarsarkan tabel 4.3 diatas diperoleh angka R2 (R Square) sebesar 0,340 atau (34%). Hal ini menunjukkan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel independen (budaya, sosial, pribadi, psikologis) terhadap variabel dependen (kepuasan konsumen) sebesar 34%. Sedangkan sisanya sebesar 66% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.
Adjusted R adalah nilai R Square yang telah disesuaikan, nilai ini selalu lebih kecil dari R Square dan angka ini bisa memiliki kepuasan konsumen negatif.
c. Uji Koefisien Regresi secara Parsial (Uji t)
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel independen (X1, X2,.….Xn) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Y). hasil perhitungan regresi dengan SPSS terlihat pada tabel dibawah ini :


Tabel 4.3
Uji Koefisien Regresi secara Parsial (Uji t)
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) .108 1.113 .097 .923
X1 -.631 .227 -.464 -2.776 .008
X2 -.122 .199 -.081 -.613 .543
X3 .741 .350 .351 2.116 .040
X4 .971 .305 .509 3.180 .003
a. Dependent Variable: Y
Dari tabel diatas diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :
Y = 0,108 – 0,631 (budaya) – 0,122 (sosial) + 0,741 (pribadi) + 0,971 (psikologis). Persamaan tersebut berarti Konstanta a = 0,108. Apabila variabel budaya, sosial, pribadi, dan psikologis diasumsikan konstan atau 0, maka pembentukan kepuasan konsumen pada toko kelontong sudah ada sebesar 0,108, sedangkan budaya, memiliki koefisien regresi sebesar -0,631 dan signifikan pada  = 5%, dan besarnya t hitung sebesar -2,776, karena signifikan (0,025) hasil diperoleh untuk t tabel adalah 2,014 maka, Ho ditolak secara parsial ada pengaruh budaya terhadap kepuasan konsumen dan Ha diterima secara parsial tidak ada pengaruh budaya terhadap kepuasan konsumen.
Untuk variabel soial memiliki koefisien regresi sebesar -0,122 dan signifikan pada =5%, dan besarnya t hitung sebesar -0,613, karena signifikan (0,025) hasil yang diperoleh untuk t tabel adalah sebesar 2,014 maka, Ho diterima secara parsial tidak ada pengaruh sosial terhadap kepuasan konsumen dan Ha ditolak secara parsial ada pengaruh sosial terhadap kepuasan konsumen.
Pada variabel pribadi memiliki koefisien regresi sebesar 0,741 dan signifikan pada =5%, dan besarnya t hitung sebesar 2,116, karena signifikan (0,025) hasil yang diperoleh untuk t tabel adalah 2,014 maka, Ho diterima secara parsial tidak ada pengaruh pribadi terhadap kepuasan konsumen dan Ha ditolak secara parsial ada pengaruh pribadi terhadap kepuasan konsumen.
Sedangkan untuk variabel psikologis memiliki koefisien regresi sebesar 0,971 dan signifikan pada =5%, dan besarnya t hitung sebesar 3,180, karena signifikan (0,025) hasil yang diperoleh untuk t tabel adalah 2,014 maka, Ho diterima secara parsial tidak ada pengaruh psikologis terhadap kepuasan konsumen dan Ha ditolak secara parsial ada pengaruh psikologis iklan terhadap kepuasan konsumen.
Dari hasil analisis diatas dapat dilihat daerah penentu Ho pada variabel budaya, sosial, pribadi, dan psikologis.
Gambar 4.3.1
Daerah Penentu Ho untuk Variabel Budaya



Ho ditolak Ho diterima Ho ditolak



-2,776 -2,014 + 2,014
Keterangan :
Oleh karena nilai –t hitung > -t tabel (-2,776 < -2,014), maka Ho ditolak artinya secara parsial ada pengaruh signifikan antara budaya dengan kepuasan konsumen. Jadi, dapat disimpulkan bahwa secara parsial budaya ada pengaruh terhadap kepuasan konsumen.
Gambar 4.3.2
Daerah Penentu Ho untuk Variabel Pelayanan Sosial


Ho ditolak Ho diterima Ho ditolak




-2,014 -0,613 + 2,014
Keterangan :
Oleh karena nilai –t hitung < -t tabel (-0,613 > -2,014), maka Ho diterima artinya secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara sosial dengan kepuasan konsumen. Jadi, dapat disimpulkan bahwa secara parsial tidak ada pengaruh sosial terhadap kepuasan konsumen.
Gambar 4.3.3
Daerah Penentu Ho untuk Variabel Pribadi

Ho ditolak Ho diterima Ho ditolak




-2,014 +2,014 2,116
Keterangan :
Oleh karena nilai t hitung > t tabel (2,116 > 2,014), maka Ho diterima artinya secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara pribadi dengan kepuasan konsumen. Jadi, dapat disimpulkan bahwa secara parsial tidak ada pengaruh pribadi terhadap kepuasan konsumen.

Gambar 4.3.4
Daerah Penentu Ho untuk Variabel Psikologis

Ho ditolak Ho diterima Ho ditolak




-2,014 +2,014 3,180
Keterangan :
Oleh karena nilai t hitung > t tabel (3,180 > 2,014), maka Ho diterima, artinya secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara Psikologis dengan kepuasan konsumen. Jadi, dapat disimpulkan bahwa secara parsial tidak ada pengaruh Psikologis terhadap kepuasan konsumen.


BAB V
PENUTUP


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap toko kelontong adalah faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi, dan faktor psikologis.

5.2 Saran
Setelah menarik kesimpulan tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap toko kelontong, maka penulis memberi saran, toko kelontong yang ada bisa menambahkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap tokonya, seperti faktor harga dan tampilan menarik dari toko kelontong.

SUMBER:
http://www.linkpdf.com/ebook-viewer.php?url=http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/economy/2008/Artikel_11202721.pdf